Terus Menulis dan Bercahaya
Recent Posts

Monday, July 24, 2017

Aku bertanya pada mereka
Mereka menjawab, “Kami hanyalah alas kaki di negeri kami sendiri.”
Tak terjadi apa-apa
Bumi tetap berotasi
Angin tetap bertiup mencari tempat yang bertekanan rendah
Awan tetap berarak-arak

Gelak tawa tersaji
Tangis menjadi-jadi
Umpatan silih berganti
Kesakitan menghiasi
Jati diri ditutupi
Kasih saying digadai
Hidup tak berarti

Tetapi semua tetap tak berganti
Karena semua hanya terjadi di dalam bayangan

Simulacra
Semua hanya imitasi
Elit sama dengan rakyat?

Cinta di eksploitasi
Perdamaian slogan mati
Persatuan dijadikan pembelaan diri
Sedang kau telah menjual negeri ini


-Miqdad Ramadhan


Rindu mengikis ambisi
Hingga tak ada yang perlu dihabisi
Di dalam bisikan mimpi yang mengakar jauh di dalam hati
Kemudian berbisik, “Apa yang akan terjadi?”

Tapi tak mengapa, rindu mengikis ambisi
Seolah pertanyaan-pertanyaan hanya berlalu
Tak perlu banyak di tanggapi
Karena rinduku telah membuncah
Hingga hanya perlu berjalan
Kemudian mengikat keteguhan

Dan aku tau, rindu ini menggelora
Membakar habis semua ambisi dunia
Dan alih-alih membekukan cinta kepada yang lainnya
“Mengapa?!”
Tentu saja bisa
Karena ini rindu
Mampu membakar dan membekukan dalam waktu yang sama

Aku, meyakini, ini rindu
Karena aku tak mampu bertahan untuk bertemu
Antara tangis dan pengharapan
Karena kesempatan pertemuan
Tak selalu mendapat ruang.
Karena bisa jadi
Dia yang di rindu
Tak selalu dalam dimensi waktu yang sama

Bisa saja yang dirindu hidup seabad sebelum kita ada

Karena rindu bisa saja ada
Karena ini cerminana atas cinta
Saat dia berkata, “Umatku, umatku, umatku”

Miqdad Ramadhan
Ciangsana, 26 Juli 2017


Sunday, July 23, 2017

Membisu kemudian antara mimpi dan realita
Dia memang yang berkata
Atau aku yang tak berkata

Semua kemudian terbang bersama awan
Menyisakan ketakutan akan masa depan
Lantas esok aku bagaimana?

Kekhawatiran
Ketakutan
Masa depan

Cita-cita
Harapan dunia
Keinginan sementara

Padahal ada Dia
Andai kau memang benar seorang hamba
Maka taka ada lagi kata

“Apa?!”

Miqdad Ramadhan, Rawamangun 23 Juli 2017

Related image

Wednesday, December 28, 2016

"Where is the love?"
-Black Eyed Peas

Jadi apa yang harus kita lakukan untuk menjawabnya?

Mereka berkata bahwa mereka adalah yang paling benar. Dengan menguatkan segalanya dengan apa yang dimiliki nya. Entah untuk apa itu semua.

Apakah untuk eksistensi?
Atau untuk mempertahankan nama baik?

Entahlah..

Itulah kita semua yang hanya mengharapkan sesuatu yang dangkal tak berarti. Sedangkan hal besar sedang menanti. Kita bertarung untuk hal-hal yang tak berguna lagi sempit hina-dina.

Apalah arti popularitas.
Apalah arti eksistensi

Tak ada artinya apabila ini semua tak ada tujuan untuk menuju perbaikan.

Inilah kita. Seringkali menggadaikan cinta untuk mengejar hasrat pribadi yang tak ada harganya.

Inilah kita.
Yang masih jauh dari kebangkitan.
Ya, karena memang kita yang menjauhkan nya.

Thursday, October 27, 2016

"Aku tidak peduli", begitu kata mereka

Memang malam lebih mencintai bintang
Dan siang juga pasti mencintai mentari

Aku tau itu

Aku melihat siang menampakkan dirinya karena petuah sang Pencipta

Malampun menutupi karena arahan Sang Pencipta

Maka mereka semua bekerja atas visi yang sama
Mereka memiliki kesadaran yang sama
Mereka memiliki cinta yang sama
Mereka memiliki harapan yang sama
Meski tak pernah bersua

Bagaimana dengan mereka?
Aku kembali mendengar
"Aku tak peduli"

Mungkin ini sebab mengapa kita tak mendapatkan takdir untuk bangkit

Karena memang
Cinta kita
Mimpi kita
Harapan kita
Semua busuk menyengat

Semua bergerak atas keegoisan
Kehendak, karya menjadi sia-sia

Maka pada bangsa aku berkata
Bisakah kau menyatukan kita atas cinta yang sama?

- UNJ, 27 Oktober 2016

Wednesday, October 26, 2016

Berkisah tentang seorang wanita yang berjalan dalam sehari

Berjalan dengan pengharapan bahwa hari akan berganti setelahnya

Dia bergerak di antara Rabu dan Kamis

Bernafas diantara detik detik

Jantungnya berdetak diantara sepersekian detik

Gadis Rabu-Kamis tersenyum dengan getir

Dia tetap bertahan diantara kejamnya Rabu dan mencekiknya Kamis

Dia tetap bertahan dengan Rabu penuh luka dan kamis yang menyesakkan

Dia tetap bertahan diantara keduanya

Menunggu apakah semua ini akan indah pada waktunya

Gadis Rabu, Kamis tetap membersamai setiap cinta yang telah terukir

Walaupun sajak-sajak tak selalu berpihak padanya

Gadis Rabu-Kamis berlari perlahan menjauh

Hingga tak mampu aku mencapainya

Semoga hari rabu dan hari kamis mampu berdo'a untuknya

- Rawamangun, 26 Oktober 2016

Tuesday, October 25, 2016


Aku bernapas diantara kata kata yang terlarut di dalam udara

Mereka beranggapan bahwa lirik lirik yang kami utarakan adalah lirik yang keji

Padahal kami hanya bersuara menurut undang-undang yang disediakan oleh negara

Mungkin kita dihinakan oleh dunia yang entah berapa kali mencaci maki

Yaaa.

Hanya ini yang kami berikan untuk jeritan-jeritan yang kami dengar di malam hari yang gelap

Tak banyak penerangan yang bisa dilihat di malam yang kelam

Mungkin karena ini malam, sebab itulah suara mereka tak di dengar

Di banding dengan orang-orang yang akan semakin kaya karena pembangunan di tujukan untuk mereka

Mungkin karena ini malam, sebab itulah mereka tak di sadari

Karena yang mendengar mungkin sudah terlelap karena sibuk melayani pemilik saham ketika siang hari

Kemudian mereka hanya berkata
"Kami hanyalah alas kaki"

Kemudian kami menyadari karena kami masih terbangun di malam hari

Dan kami berkata apa yang mereka katakan

Dan kita tau akhirnya

Kami melahirkan lirik-lirik keji

- Jl. Perhubungan, Jakarta Timur
25 Oktober 2016